KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Dalam metode ini mencakup: 1) rambu-rambu arahan maupun batasan bagi pihak Penyusun studi AMDAL kawasan lahan basah agar dapat dicapai hasil studi yang tepat sasaran, tepat waktu, tepat biaya, dan tepat guna. 2)pokok-pokok pertimbangan bagi pihak Penilai Dokumen AMDAL, sehingga mampu secara kritis memainkan jurus-jurus kendali dan koreksi yang bermanfaat bagi penyempurnaan suatu kajian. 3)gambaran umum kepada para pengusaha dan masyarakat yang berminat tentang manfaat dan resiko terkait, yang berimplikasi terhadap biaya kegiatan maupun biaya sosial, berkenaan dengan setiap rencana pemanfaatan kawasan lahan basah. 4) cara-cara pemanfaatan lahan basah sehingga terpelihara kelestarian fungsi ekologisnya; mengingat peruntukan lahan yang tidak harmonis dan penerapan Iptek yang kurang bijaksana dapat mengakibatkan gejala erosi genetik, polusi dan penurunan potensi lahan basah sulit dikendalikan.5) Upaya mempertahankan proses ekologis antar ekosistem di kawasan lahan basah sebagai sistem penyangga kehidupan yang perlu bagi kelangsungan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan penduduk di kawasan lahan basah pada khususnya serta masyarakat pada umumnya. 6)Mendorong langkah-langkah antisipasif dalam menggali dan mengembangkan potensi keanekaragaman sumber genetik serta potensi lain dari berbagai tipe ekosistem lahan basah dalam kerangka kemajuan Iptek dan perkembangan sosial budaya di masa depan.
Komponen lingkungan yang ingin dipertahankan dan dijaga serta dilestarikan fungsinya, antara lain adalah: Kawasan gambut, Kawasan resapan air, Sempadan sungai, Sempadan pantai, Kawasan sekitar danau/waduk, Kawasan pantai berhutan bakau, RawaEkosistem lahan basah dapat dikategorikan menjadi 4 ekosistem utama:1)Ekosistem Hutan “Bakau� (Zonasi I), 2) Ekosistem Hutan Rawa Payau (Zona I), 3)Ekosistem Hutan Rawa Air Tawar (Zona II), 4)Ekosistem Hutan Rawa Gambut (Zona III)