KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

"Bersama Selamatkan Bumi dari Perubahan Iklim"

Jakarta, SUAR- Pameran Pekan Lingkungan (PLI) 2009, dari tanggal 28 hingga 31 Mei di Jakarta Convention Center ramai didatangi pengunjung. Tidak hanya warga Jakarta dan sekitarnya, tapi juga dari luar pulau Jawa. PLI sudah menjadi agenda tahunan Kementerian Negara Lingkungan hidup yang dilaksanakan sebagai bagian dari Peringatan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia (Environment Day) 2009.

Penyelengaraan PLI tahun ini memang mendahului momentum Hari Lingkungan se-Dunia, yakni 5 Juni, karena masih banyak rangkaian kegiatan lain yang akan diselenggarakan sesudah itu. Misalnya, penyerahan penghargaan Kalpataru, Adipura, Adiwiyata, dan sebagainnya.

Menurut Sekretaris Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Arief Yuwono, tema Hari Lingkungan Hidup tahun 2009 adalah "Your Planet Need You – UNite to Combat Climate Change."

Tema ini ditetapkan oleh lembaga lingkungan hidup, international, United Nation Environment Programme (UNEP). "Atas dasar itu, maka tema Hari Lingkungan di Indonesia adalah "Bersama Selamatkan Bumi dari Perubahan Iklim," jelas Arief Yuwono saat pembukaan PLI di Senayan Jakarta.

Mengenai penyelengaraan PLI 2009, Henry Bastaman, Deputi VI Menneg Lingkungan Hidup Bidang Komunikasi Lingkungan & Pemberdayaan Masyarakat selaku penanggung jawab penyelengaraan PLI 2009 menjelaskan bahwa dibanding dengan tahun sebelumnya, jumlah partisipan cukup meningkat. "Tidak kurang dari 251 partisipan ikut ambil bagian dari kegiatan PLI 2009, baik dari instansi Pemerintah pusat, Pemerintah daerah, BUMN, perusahanan Swasta hingga lembagga-lembaga swadaya masyarakat," kata Henry Bastaman.

Peresmian pembukaan PLI 2009 tidak dihadiri oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar, sebab menurut sumber di Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Menneg LH masih dalam perjalanan kembali ke tanah air, setelah menghadiri beberapa pertemuan internasional di Eropa.

Dalam amanat tertulis yang dibacakan oleh Sekretaris Kementerian Negara lingkungan Hidup, Arief Yuwono, Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar, mengingatkan semua pihak akan pentingnya antisipasi terhadap dampak perubahan iklim yang telah terbukti disebabkan oleh berbagai perilaku menusia yang tidak berwawasan lingkungan.

Menurut Rachmad Witoelar, akibat dari itu semua, kehidupan di muka bumi bisa terancam, Krisis ekonomi global yang sedang melanda dunia, kata rachmat witoelar, merupakan tantangan terberat bagi semua negara dalam mengatasi pemenuhan akan kebutuhan pangan dan energi bagi warganya. Ledakan jumlah penduduk yang besar dan terbatasnya ketersediaan sumber daya alam kerapkali menyebabkan para pengambil keputusan melupakan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan, dengan menetapkan eksploitasi sumber daya alam yang tidak berwawasan lingkungan.

Begitu pula pelepasan emisi gas karbon dioksida (CO2) yang terakumulasi dan meningkat dalam jumlah besar setiap tahunnya telah menyebabkan perubahan iklim global semakin nyata.

Menurut Rachmat Witoelar, dalam hal ini Pemerintah Indonesia akan berusaha memainkan peran penting dalam penanggulangan dampak perubahan iklim. Beberapa waktu lampau, Pemerintah Indonesia telah  menjadi tuan rumah dari  World Ocean Conference atau Konperensi Kelautan Dunia yang menghasilkan Manado Ocean Declaration atau Deklarasi Manado.

Hasil kesepakatan berbagai negara ini, kata Rachmat Witoelar akan menjadi salah satu agenda pembahasan pada Sidang COP 15 UNFCCC atau Konperensi PBB ke 16 untuk Perubahan Iklim di Conpenhagen Denmark akhir tahun ini.

Rachmat Witoelar juga menghimbau seluruh lapisan masyarakat agar mau bersama-sama melakukan perubahan besar dengan mengarusutamakan lingkungan dalama semua pola pikirnya. "Pola Konsumsi dan pola Produksi Berkelanjutan merupakan tatanan berfikir  yang perlu diwujudkan terus menerus dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup antar generasi," kata Rachmat Witoelar.

Ditegaskannya, dengan kondisi iklim demokrasi yang semakin hangat di berbagai lapisan masyarakat, maka yang patut dipupuk adalah semangat kebersamaan agar semua dapat memberikan kontribusi nyata dalam mengatasi dampak perubahan iklim.

"Pemerintah pusat dan daerah diharapkan dapat mengarusutamakan lingkungan hidup dalam kebijakannya: Dunia usaha dapat melaksanakan mekanisme produksi bersih. Masyarakat terus dapat berperan dalam pelaksanaan gerakan lingkungan seperti aksi kebersihan dengan penerapan 3R (Reuse-Reduce-Recycle), aksi menanam pohon sebagai upaya konservasi serta penggunaan energi listrik dan bahan bakar secara arif, efisien dan efiktif, kata Rachmat Witoelar. (Paulus Londo)

Sumber:
Koran Akar Rumput
Edisi: 04-09 Juni 2009