KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Perubahan iklim sebagai fenomena global merupakan tantangan lingkungan terbesar yang dihadapi dunia saat ini. Isu global ini mulai menjadi topik perbincangan sejak diadakannya  Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro, Brazil dua puluh tahun yang lalu sampai dengan KTT Rio+20 tahun 2012. Konferensi internasional terkait isu perubahan iklim terus berlangsung dari waktu ke waktu. Tahun 2012 sudah mencapai penyelenggaraan COP 18 (Conference of the Parties) to the United Nations Framework Convention on Climate Change di Doha, Afrika Selatan, yang pada dasarnya mencari berbagai upaya terbaik dalam mengurangi emisi karbon untuk mengurangi dampak perubahan iklim yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. Namun demikian masih ada sejumlah pandangan pro dan kontra dikalangan para ahli yang masih menyangsikan bahwasanya perubahan iklim telah benar terjadi. Walau fakta telah menunjukkan  bahwa pemanasan global saat ini sudah nyata dan terasa dampaknya hampir di seluruh muka bumi.

Perubahan  iklim yang sedang terjadi perlu disikapi dengan memperdalam pemahaman tentang proses kejadiannya secara ilmiah, baik penyebab maupun dampaknya terhadap manusia dan lingkungan kita. Dengan pemahaman tersebut dapat direncanakan upaya penyesuaian (adaptasi) dan pencegahannya (mitigasi). Meningkatnya suhu global mengakibatkan perubahan dalam pola cuaca, naiknya permukaan air laut, meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrim. Dimana-mana terjadi bencana banjir dan kekeringan yang membawa korban yang tidak sedikit. Dampak perubahan iklim telah mempengaruhi seluruh umat manusia di bumi ini. Sehingga solusi terhadap perubahan iklim harus bersifat global, yang dilakukan dalam bentuk aksi lokal di seluruh dunia.

Terutama bagi negara kita, sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat rentan terhadap perubahan iklim yang menyebabkan bencana seperti banjir, longsor, kemarau  panjang, angin kencang, dan gelombang tinggi. Ancaman  terhadap bencana iklim di Indonesia ini bahkan dapat terjadi dalam intensitas yang lebih besar lagi dan secara langsung dirasakan oleh masyarakat petani, nelayan, pesisir, perdesaan, dan perkotaan. Dampak perubahan iklim yang lebih luas tidak hanya merusak lingkungan akan tetapi juga membahayakan kesehatan manusia, keamanan pangan, kegiatan pembangunan ekonomi, pengelolaan sumberdaya alam dan infrastruktur fisik.

Salah satu tantangannya adalah pemahaman tentang perubahan iklim yang masih belum tersebar luas secara benar. Berbagai pertanyaan yang sering muncul, apa itu pemanasan global? Apa itu efek rumah kaca? Apakah yang mempengaruhi perubahan iklim? Bagaimana solusi dalam mengatasi perubahan iklim dan lain sebagainya masih menyajikan jawaban yang sangat bervariasi. Terlepas dari berbagai pertanyaan tersebut, penanggulangan masalah perubahan iklim perlu dilaksanakan oleh berbagai pihak mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, masyarakat madani, dunia pendidikan, masing-masing individu maupun pemangku kepentingan lainnya. Perlu menjadi perhatian semua pihak mengenai peningkatan pemahaman tentang isu perubahan iklim, agar dapat berpartisipasi secara aktif dalam mengurangi penyebab dan dampak perubahan iklim, terutama para generasi muda mendatang yang akan mewarisi bumi tercinta ini, perlu mendapatkan pendidikan lingkungan yang memadai.

Dunia Pendidikan memainkan peran yang sangat penting dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang diharapkan dapat berperan aktif dalam mengatasi permasalahan perubahan iklim. Berdasarkan data statistik Kemendiknas, sampai dengan tahun 2010 menunjukkan jumlah guru Sekolah Menengah Pertama di seluruh Indonesia sebesar 638.014 orang, sedangkan jumlah siswanya sebanyak 9.225.006 orang. Figur ini secara tidak langsung dapat merefleksikan potensi terhadap perwujudan perilaku ramah lingkungan generasi mendatang  bilamana dikelola dengan baik. Karena dengan pendidik berkualitas akan menghasilkan siswa didik  yang berkualitas serta berperilaku ramah lingkungan. Untuk itu, dengan mendorong peningkatan kualitas tenaga didik dalam hal pengajaran perubahan iklim ini, hampir dapat dipastikan masalah perubahan iklim dimasa mendatang dapat diminimalisasi dan pembangunan berkelanjutan dapat terwujud.

Dalam rangka mewujudkan hal tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup melalui unit kerja Asdep Peningkatan Peran Serta Organisasi Kemasyarakatan di Deputi Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat dibantu para aktivis pendidikan lingkungan hidup dan pakar lingkungan, berupaya menyusun buku suplemen tentang perubahan iklim untuk profesi guru jenjang pendidikan menengah. Buku ini ditujukan untuk mendorong agar pembelajaran tentang perubahan iklim di jenjang pendidikan menengah ini dapat lebih efisien efektif, khususnya melalui pendekatan integratif.

Tidak sedikit hambatan yang dihadapi dalam penyusunan buku ini, namun berkat kerjasama dan koordinasi yang baik pada akhirnya buku ini dapat diselesaikan. Pada kesempatan ini pula, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu. Besar harapan kami buku ini dapat digunakan sebagaimana mestinya dan dapat menjadi arahan dan acuan bagi guru dalam pembelajaran tentang perubahan iklim bagi siswa di jenjang pendidikan menengah pertama, agar di kemudian hari mereka dapat menjadi generasi muda yang berperilaku ramah lingkungan.

Download buku:

Suplemen Pembelajaran Perubahan Iklim Untuk Guru

Berita terkait: National Summit Perubahan Iklim ke-2 Tahun 2012

Sumber:

Asdep Peningkatan Peran organisasi Kemasyarakatan