KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Surabaya, 8 Maret 2013. Sampah bukan lagi merupakan barang sisa yang tidak berguna namun dapat menjadi sumber daya jika dikelola menjadi barang berguna. Prinsip 3R (reuse, reduce, recycle) menjadi salah satu solusi mengolah sampah menjadi kompos atau memanfaatkan sampah menjadi sumber listrik (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah). Dengan 3R terjadi upaya pengurangan ekstraksi sumber daya karena bahan baku dapat terpenuhi dari sampah yang didaur ulang dan diguna ulang. Dari sisi lingkungan, penerapan prinsip 3R merupakan langkah nyata upaya pengendalian dan pencemaran lingkungan karena dengan melakukan 3R maka akan terjadi pengurangan beban pencemar (pollutant load) baik ke air, tanah maupun udara. Sesuai komitmen pemerintah untuk menurunkan emisi GRK sebesar 26% pada tahun 2020, sektor limbah dan sampah ditargetkan menurunkan emisi GRK sekitar 6,1%. Guna menurunkan emisi sebesar itu, sektor pengelolaan sampah untuk masing-masing kabupaten/kota harus melakukan pengurangan sampah minimal sebesar 7% melalui kegiatan 3R.

Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA hari ini berkesempatan meresmikan TPS 3R dan Bank Sampah Kelurahan Sutorejo. Dalam Sambutannya disampaikan “Masyarakat sangat berperan dalam menjaga kotanya menjadi kota bersih impian semua orang sesuai hak masyarakat sebagai warga negara. Perwujudan dari kota yang bersih akan berpengaruh terhadap peningkatan kesehatan, perekonomian, maupun kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, masalah sampah perkotaan harus terkelola dengan baik”. Data KLH hingga Desember 2012, sudah terbentuk 1136 Bank Sampah di 55 kota di 17 provinsi, jumlah nasabah 96.203 orang dengan omset lebih dari 15 milyar rupiah. Pembentukan TPS 3R di Kelurahan Sutorejo dan Bank Sampah merupakan hasil kerjasama antara Pemerintah Daerah Kota Surabaya dan Pemerintah Kota Kitakyushu sebagai aksi nyata dalam upaya pengelolaan sampah.

Pengelolaan sampah dan sanitasi yang buruk menyebabkan menurunnya kesehatan masyarakat, meningkatnya produksi gas rumah kaca (GRK), timbulnya bencana, serta mengakibatkan kerugian ekonomi. Pemanfaatan gas methan pada TPA Supit Urang Kota Malang merupakan upaya serius pemerintah menangani permasalahan sampah dan sanitasi serta turut menurunkan GRK sektor limbah/sampah. Pemanfaatan gas methan dari TPA ini digunakan untuk memasak dan menerangi listrik masyarakat yang merupakan inisiasi dari Pemerintah Kota Malang. Hal ini merupakan amanat dari Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Pelaksanaan pemanfaatan gas methan pada TPA Supit Urang Kota Malang sesungguhnya merupakan cermin tingginya integritas dan kecintaan masyarakat dan Pemerintah Kota Malang terhadap pelestarian lingkungan. Hal tersebut dapat dijadikan contoh untuk kota-kota di daerah lainnya.

Untuk Informasi Lebih Lanjut:
Dra. Masnellyarti, M.Sc,
Deputi MENLH Bidang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun, Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dan Sampah,
Tlp/Fax: (021) 85905637,
email: humaslh@gmail.com