KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Terindikasi-Terjadi-Hujan-Asam-di-Beberapa-Kota-di-Indonesia--The-Sixteenth-Session-of-the-Intergovernmental-Meeting-on-the-Acid-Deposition-Monitoring-Network-in-East-Asia

Jakarta, 25 November 2014 – Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan The Sixteenth Session of the Intergovernmental Meeting on the Acid Deposition Monitoring Network in East Asia (EANET) yang diselenggarakan pada tanggal 25-26 November 2014 di Jakarta. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sebagai focal point ikut berperan serta aktif dalam penyelenggaraan pemantauan deposisi asam melalui Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan (Pusarpedal) dan mengkoordinasikan kegiatan pemantauan deposisi asam yang dilakukan oleh kementerian/lembaga terkait.

Acara ini dibuka oleh Ir. Arief Yuwono, MA, Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan dihadiri oleh Henk Verbeek, Senior Programme Officer, United Nations Environment Programme, Kantor Regional untuk Asia dan Pasifik (UNEP ROAP), mewakili Direktur UNEP Regional untuk Asia dan Pasifik, dan Dr. Jonathan Shaw, Wakil Direktur Pusat Sumber Regional untuk Asia dan Pasifik, Asian Institute of Technology (RRC.AP / AIT), Sekretariat EANET di RRC.AP / AIT.

Mengingat deposisi asam merupakan polutan lintas batas maka di kawasan Asia Timur diadakan kesepakatan kerjasama pemantauan deposisi asam yaitu The Acid Deposition Monitoring Network in East Asia (EANET) yang diikuti oleh 13 negara termasuk Indonesia sejak tahun 1998.

Dalam sambutan pembukaannya, Arief Yuwono menyatakan,”Kerjasama regional ini akan memperkuat upaya pemantauan deposisi asam di masing-masing negara anggota EANET juga sebagai upaya untuk menentukan kebijakan penanganan terhadap dampak yang timbul akibat deposisi asam baik di tingkat nasional maupun regional”

Selanjutnya pada kesempatan ini Ir. Arief Yuwono, MA, Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup, menandatangani Instrumen untuk memperkuat Pemantauan Deposisi Asam di Asia Timur (EANET) atas nama Pemerintah Republik Indonesia.

Deposisi asam adalah terdeposisinya asam-asam yang ada di atmosfer baik dalam bentuk gas maupun cairan ke tanah, sungai, hutan dan tempat lainnya melalui tetes air hujan, kabut, embun, salju, aerosol yang jatuh bersama angin. Asam-asam tersebut berasal dari kegiatan manusia (anthropogenic) seperti emisi pembakaran batubara dan minyak bumi, serta emisi dari kendaraan bermotor. Kegiatan alam seperti letusan gunung berapi juga dapat menjadi salah satu penyebab deposisi asam.

Indikasi terjadinya deposisi asam adalah pH air hujan dibawah 5,6 dan dalam bahasa umum biasa juga disebut “hujan asam”. Deposisi asam di atmosfer terjadi melalui proses katalitis dan fotokimia gas-gas sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx) yang biasanya diemisikan dari industri dan kendaraan bermotor menjadi senyawa asam H2SO4 dan HNO3. Deposisi asam yang turun akan membasahi tanah dan benda-benda di permukaan bumi, mengalir melalui sungai hingga ke danau atau rawa-rawa dan selanjutnya akan memberikan dampak yang negatif.

Berdasarkan hasil pemantauan, terlihat bahwa di titik pemantauan deposisi asam di Bandung, Serpong (Tangerang Selatan), Jakarta, Kototabang dan Maros terindikasi telah terjadi deposisi asam, di mana nilai rata-rata pH air hujan pada tahun 2001 – 2013 berkisar pada 4,3 – 5,6

Deposisi asam yang jatuh ke tanah dan mengalir ke sungai, danau dan rawa akan menyebabkan penurunan nilai pH air permukaan, sehingga populasi akuatik akan berkurang atau bahkan menghilang. Deposisi asam baik basah maupun kering dapat merusak bangunan, patung, kendaraan bermotor dan benda yang terbuat dari batu, logam atau material lain bila diletakkan di area terbuka untuk waktu yang lama. Asam yang bereaksi dengan senyawa lain akan menyebabkan kabut polusi (urban smog) yang mengakibatkan iritasi pada paru-paru, asma, bronkitis dan penyakit pernapasan lainnya.

Pengendalian deposisi asam dapat dilakukan dengan cara efisiensi dan preservasi energi, pengembangan non fossil fuel dan teknologi ramah lingkungan. Untuk itu diperlukan peran serta pemerintah, masyarakat dan seluruh stake holder yang terintegrasi dalam manajemen pengendalian deposisi asam sehingga tercipta pembangunan berkelanjutan.
Informasi lebih lanjut hubungi:

Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup, Telp. 021 – 8517164, Fax. 021 – 85902521, www.menlh.go.id