KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 11 Juli 2014, Hari ini, Kementerian Lingkungan Hidup(KLH) bekerjasama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan IPCC Secretariat menyelenggara-kanThe 5th Assessment Report Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) Outreach Event. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan hasil laporan IPCC terakhir (IPCC AR 5) oleh IPCC Secretariat ke 3 negara di Asia Tenggara. KLH sebagai government national focal point dari IPCC, dan BMKG sebagai national focal point dari World Meteorological Organization (WMO), mempunyai kepentingan untuk memahami IPCC AR 5 sebagai dasar masukan bagi kebijakan terkait perubahan iklim dan mendorong peningkatan penelitian mengenai perubahan iklim.

Indonesia selama ini cukup aktif dalam berbagai kegiatan IPCC seperti keterlibatan pada penyusunan AR4 dan AR5. Terlebih Indonesia menjadi tuan rumah IPCC sesi 31 di Bali tahun 2009 dimana disusun dasar struktur laporan AR5. Indonesia menempatkan Lead Author pada Working Group I dan juga anggota pada Task Force Greenhouse Gasses Inventory.

Indonesia melalui IPCC-Indonesia, telah menyelenggarakan Lokakarya Hasil IPCC AR 5 dan Upaya Pengendalian Dampak Perubahan Iklim di Indonesia pada tanggal 25 Juni 2014 yang lalu dengan kegiatan melakukan telaah hasil IPCC AR 5 untuk diinterpretasikan ke dalam konteks Indonesia dalam rangka penyusunan program aksi pengendalian dampak perubahan iklim. Dari lokakarya tersebut dihasilkan rekomendasi hasil IPCC AR 5 Working Group I, II dan III yang akan memberi penguatan peran bagi para peneliti dan pemangku kepentingan untuk mengembangkan dan mempublikasikan kajian ilmiah perubahan iklim Indonesia dalam jurnal nasional dan internasional.

Untuk menjawab tantangan terhadap tujuan dari event ini,maka hadir narasumber dariIPCCsecretariat untuk membahas hasil IPCC AR 5, diantaranya :

  1. Working Group I (The Physical Science Basis) : Dr. David Wratt, Prof. Jean-Pascal van Ypersele, Prof. Fredolin Tangang
  2. Working Group II (Impacts, Vulnerabilities and Adaptation) : Prof Christopher Field, Dr. Elvira Poloczanska, Dr. Arthur Webb
  3. Working Group III(Mitigation of Climate Change): Prof Jim Skea, Prof. NH Ravindranath

IPCC Working Group III telah melaporkan bahwa emisi GRK antara tahun 2000-2010, adalah yang tertinggi pada 3 dekade terakhir. Di tahun 2000-2010, emisi GRK sebesar 2,2% per tahun sebesar 40-49 GtCO2eq, dibandingkan tahun 1970-2000 sebesar 1,3% per tahun yaitu 27-40 GtCO2eq. Sementara Working Group II dari laporannya menunjukkan bahwa perubahan iklim akan memberikan dampak terburuk bagi permukiman, spesies dan ekosistem, kesehatan manusia, produksi pangan dan pada aspek lainnya.

Pada kesempatan ini juga diselenggarakan special workshop yang merupakan bagian yang tidak terlepas dari pembahasan IPCC AR 5. Beberapa permasalahan yang urgent adalah melakukan link untuk sains Indonesia dapat berperan aktif dalam penyusunan laporan IPCC berikutnya dan bagaimana agar ilmuwan Indonesia dapat lebih banyak berperan dalam berbagai kegiatan lainnya serta sosialisasi IPCC atas proses dan bagaimana penyusunan sebuah laporan pada umumnya.

IPCC-Indonesia sebagai forum ilmiah bagi peneliti dan praktisi dalam melakukan penanganan perubahan iklim dan dampaknya, menganggap perlu diintegrasikannya hasil kajian ilmiah terkait perubahan iklim ke dalam penentuan kebijakan di lingkup nasional. Sekaligus akan meningkatkan keterlibatan Indonesia terhadap penyusunan assessment report IPCC, maka pada bagian akhir diselenggarakan sesi Climate Change in Indonesia: Integrating Science Into Policydan disampaikan oleh Bappenas,Kementerian ESDM (Koordinator Gugus Tugas Keamanan Energi, IPCC-Indonesia) dan CCROM-IPB (Wakil Koordinator Gugus Tugas Ketahanan Pangan, IPCC-Indonesia).

Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA yang hadir menyampaikan Keynote Speaker menegaskan “Indonesia telah mempergunakan assessment repot IPCC dan guideline-nya sebagai referensi dalam menyusun kebijakan iklim, kajian adaptasi dan kerentanan, inventarisasi emisi gas rumah kaca dan aksi mitigasinya, sebagai bagian dari penyusunan laporan National Communication untuk UNFCCC. Juga, beberapa ahli dan ilmuwan terlibat dalam penyusunan laporan tersebut. Lebih jauh, beberapa ahli perubahan iklim Indonesia di tahun 2013  juga terlibat dalam penyusunan masukan terhadap IPCC Guideline 2006 terkait dengan Inventarisasi GRK Nasional, khususnya “Wetland”, yang merupakan ciri khas utama Indonesia sebagai negara yang mempunyai lahan gambut terluas di dunia”.

Pembagian gugus tugas dalam IPCC-Indonesia sesuai dengan Pidato Presiden RI dalam prioritas penanganan perubahan iklim dan Keputusan Menteri LH No. 217 Tahun 2012 adalah Gugus tugas Keamanan Energi; Gugus tugas Ketahanan Pangan; Gugus tugas Kelautan; Gugus tugas Kehutanan dan Lahan; Gugus tugas Pendanaan.Sedangkan dalam IPCC terdiri dari WG I (Physical Science Base), WG II (Impact, Adaptation and Vulnerability) dan WG III (Mitigation of Climate Change). Terdapat sedikit perbedaan, akan tetapi dengan adanya perbedaan tersebut menyebabkan di setiap gugus tugas harus mempelajari dan peduli terhadap semua working group dalam IPCC.

Untuk Informasi Lebih Lanjut:
Ir. Arief Yuwono MA,
Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan
dan Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup,
Telp/fax: 021 85904923,

Prof. Dr. Ir. Edvin Aldrian, M.Sc. APU,
Kepala Pusat Peneliian dan Pengembangan, BMKG,
Telp/fax: 021 4246321
website: www.bmkg.go.id