KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

presds.jpgJakarta, 6 – 7 Maret 2007. Permasalahan lingkungan hidup terutama perubahan iklim dan keberlanjutan energi adalah isu krusial bagi dunia di masa kini, mengingat perubahan iklim terjadi dengan sangat cepat sementara ketersediaan energi juga mulai berkurang. Isu ini merupakan salah satu isu utama yang mendapat perhatian dalam Pertemuan Tingkat Tinggi Asia Europe (ASEM) ke-6 di Helsinki, Fintandia, tanggal 10 – 11 September 2006. Pentingnya permasalahan lingkungan hidup diakui secara global, tertihat dengan diketuarkannya Deklarasi mengenai Perubahan Iklim yang antara lain menugaskan Menteri-Menteri Lingkungan, Hidup ASEM untuk melanjutkan diskusi guna mendukung implementasi UNFCCC (United Nations Framework on Convention of Climate Change) dan Protokol Kyoto. Sehubungan dengan hat tersebut maka Menteri-Menteri Lingkungan Hidup ASEM akan mengadakan perternuan ketiga di Copenhagen, Denmark pada tanggal 24-26 April 2007 dengan agenda utama pembahasan mengenai perubahan iklim dan kebertanjutan energi.

Guna mempersiapkan pertemuan tingkat Menteri tersebut, maka pada tanggal 6-7 Maret 2007 di Jakarta diselenggarakan Preparatory Meeting for the 3 rd ASEM Environment Ministers’ Meeting yang dihadiri oleh para pejabat tinggi dari 45 mitra ASEM yang terdiri dari 17 mitra Asia (10 negara ASEAN ditambah Jepang, China, Korea Selatan, India, Pakistan, Mongolia dan ASEAN Secretariat) dan 28 mitra Eropa (Uni Eropa dan Komisi Eropa).

Pertemuan akan dibuka oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup Indonesia, Ir. Rachmat Witoelar. Ini merupakan pertemuan Preparatory Meeting for Environment Ministers pertama, yang merupakan usul dari Indonesia dan Denmark. Tujuan utama pertemuan ini adalah untuk bertukar pikiran mengenai permasalahan perubahan iklim, kebertanjutan energi, pengaruh perubahan iklim terhadap keberadaan keanekaragaman hayati dan deforestasi, teknologi yang mendukung penggunaan energi yang berkelanjutan serta kerjasama dan kemitraan antara mitra ASEM. Hasit dari pertemuan ini diharapkan dapat memperkaya mated diskusi CSD dan COP13/MOP3 di Bali yang akan datang.

Perubahan iklim merupakan salah satu masalah yang menuntut penyelesaian secara global. Pertumbuhan ekonomi dan penggunaan energi yang tidak berkelanjutan akan mempengaruhi kondisi iklim, dan perubahan iklim akhirnya berpengaruh juga terhadap ketahanan dan kemakmuran masyarakat di masa mendatang. Pengembangan energi terbaru yang mendukung penggunaan energi secara effisien dan berkelanjutan diperlukan delam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan. Untuk itu diperlukan penelitian dan pengembangan, inovasi, serta penggunaan dan transfer teknologi yang dapat meningkatkan keamanan energi, mengurangi polusi udara dan emisi gas rumah kaca serta mendukung pernbangunan berketanjutan.

Perubahan iklim menjadi ancaman terbesar bagi keanekaragaman hayati. Setiap spesies harus beradaptasi dengan adanya perubahan iklim, karena terjadinya perubahan habitat dan siklus hidupnya. Spesies-spesies yang tidak dapat beradaptasi akan punah dan diperkirakan 1 juta spesies akan punah jika hat ini terus berlangsung. Kepunahan keanekaragaman hayati mempunyai pengaruh negatif pada beberapa aspek kehidupan manusia seperti dipengaruhinya keamanan pangan dan energi, akses akan air bersih serta ketersediaan bahan-bahan pokok lainnya. Dilain pihak, keanekaragaman hayati dan komponennya dapat mengurangi dampak perubahan iklim terhadap manusia, khususnya melalui aktivitas kehutanan, karena hutan mempunyai arti penting sebagai penyimpan karbon teresteriat yang terbesar.

Oleh karena itu, ada peluang yang signifikan antara mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim bersamaan dengan konservasi keanekaragaman hayati.

Dua kebijakan penting terkait dengan perubahan iklim, yaitu keanekaaragaman hayati dan kehutanan, sangat berperan untuk mencegah terjadinya penebangan dan kebakaran hutan, yang harus dikuti dengan upaya penegakan hukum serta mencegah pernbalakan liar.

Dalam upaya menanggulangi dampak-dampak tersebut diperlukan kolaborasi antara negara maju dan negara berkembang yang menjadi mitra ASEM melalui kerjasama konkrit antara Selatan-Selatan/Setatan-Utara, pertukaran data dan informasi serta mekanisme ”Clearing House" untuk menyusun strategi dan program aksi bersama.

Diharapkan perternuan ini dapat menjadi kerangka pemikiran untuk Pertemuan Menteri-Menteri Lingkungan Hidup ASEM ke-3 pertemuan yang akan memberikan rekomendasi bagi pemerintah, lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan, sektor swasta serta kelompok-kelompok regional lainnya dalam penentuan kebijakan, strategi dan program kerjasama diantara sesama negara anggota.

Sumber:

Staf Ahli MENLH
Bidang Lingkungan Global
dan Kerjasama Internasional
Telepon (021) 8580112