KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Meneg LH, Prof. Rachmat Witoelar:
Penggunaan sarana transportasi sepeda sesungguhnya bisa jadi solusi atas masalah kemacetan dan pencemaran lingkungan. Karena itu tak heran bila di berbagai kesempatan, Menteri Negara Lingkungan Hidup, Prof. Rachmat Witoelar senantiasa menganjurkan pemakaian sepeda untuk berbagai keperluan. "Tidak hanya untuk berolah raga, tapi sepeda juga bisa dijadikan sarana tranportasi ke tempat kerja," ucap Rachmat Witoelar, sesaat setelah ia bersepeda dari Kompleks Gelora Bung Karno hingga Bundaran Hotel Indonesia, saat peluncuran "HOPE 2009", 28 Desember 2008 silam. Bahkan, lanjut Rachmat Witoelar, dengan bersepeda, badan menjadi lebih segar, karena peredaran darah menjadi semakin lancar.

Sesungguhnya, anjuran bersepeda tidak hanya datang dari Meneg LH, Rachmat Witoelar, tapi juga dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Dengan bersepeda, masyarakat telah ikut serta mengurangi pencemaran udara akibat gas buang kendaraan bermotor, dengan memperbanyak penggunaan sepeda saat beraktivitas sehari-hari," tegas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono setahun silam ketika berbicara di depan sekitar 300 anggota komunitas "bike to work" dan komunitas bersepeda lainnya di Istana Kepresidenan, Jakarta.

Dengan bersepeda, kata Rachmat Witoelar masyarakat dapat melestarikan lingkungan kota dengan mengurangi kadar karbon dioksida, dan karena itu, ia menganjurkan kegiatan bersepeda bersama-sama frekuensinya bisa ditingkatkan dan lebih teratur.

Gerakan Bersepeda Jakarta Selatan
Kini anjuran Prof. Rachmat Witoelar semakin mendapat sambutan positif dari beberapa kalangan. Dukungan itu tidak hanya datang dari para artis, aktivis lingkungan hidup, dan komunitas pecinta sepeda, tapi
juga juga dari pemerintah daerah.

Salah satu diantaranya dari Pemerintah Kota Jakarta Selatan, yang telah mencanangkan Gerakan Bersepeda di lingkungan Pemkot Jakarta Selatan, tanggal 13 Januari silam. Di depan ratusan jajaran pegawai Pemkot Jakarta Selatan, termasuk para camat dan lurah di wilayah tersebut, Syahrul Effendi menganjurkan agar seluruh jajaran Pemkot Jaksel melakukan kampanye pemakaian sarana transportasi sepeda sebagai bagian dari peningkatan mutu pelayanan kepada masyarakat.

"Dengan menggunakan sepeda, diharapkan para camat, lurah dan staf pemerintah kota lebih mengenal kondisi wilayah serta kehidupan masyarakat," kata Syahrul Effendi. Dengan bersepeda, lanjut Syahrul Effendi, selain dapat mengurangi kemacetan lalu lintas, juga dapat mengurangi
polusi udara.

"Pemakaian kendaraan bermotor sebaiknya dikurangi saat melakukan pelayanan terhadap warga. Masa rapat RT/RW saja harus menggunakan mobil. Dalam memberikan pelayanan kepada warga, juga prioritaskan mereka yang datang dengan bersepeda atau jalan kaki," tandasnya.

Pada kesempatan itu juga, Syahrul mengukuhkan Satgas Sepeda Kebersihan yang akan bertugas mengangkut sampah volume kecil di tingkat kelurahan. "Mereka di bawah koordinasi Sudin Kebersihan dan akan berada di setiap Kelurahan," kata Syahrul.

Sepeda Untuk Sekolah
Kampanye bersepeda di lingkungan Pemerintah DKI Jakarta sebenarnya sudah berjalan sejak setahun silam. Salah satunya melalui Program Sepeda Untuk Sekolah (SUS) yang dicanangkan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup dengan Pemerintah Kota Jakarta Pusat. Bahkan Walikota Jakarta Pusat, Sylviana Murni pernah mengusahakan pengadaan 160 sepeda untuk sekolah-sekolah di delapan kecamatan. "Sepeda-sepeda itu dapat dipinjamkan kepada siswa yang membnutuhkannya. yang dapat dipinjamkan kepada para siswa yang terancam putus sekolah karena ketiadaan biaya. Setiap kecamatan mendapat jatah 20 sepeda. Keponakan saya saja ke sekolah pakai sepeda," ujar Sylviana Murni saat itu. la menilai, program SUS akan sangat membantu siswa yang tidak kuat bayar angkutan umum akibat kenaikan harga BBM, karena itu dana BOS sebenarnya dapat dipakain untuk membeli sepeda. ■ Paulus Londo

Sumber:
Koran Akar Rumput
Hal. 8
21 – 26 Januari 2008