KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0306/13/daerah/367634.htm
Jumat, 13 Juni 2003

Udara di Pekanbaru Dianggap Berbahaya

Pekanbaru, Kompas – Menyusul kebakaran hutan dan lahan yang semakin marak
di beberapa kawasan di Provinsi Riau, indikator pencemaran udara di Kota
Pekanbaru menunjukkan kondisi yang berbahaya dalam dua hari terakhir ini.
Kondisi tersebut dikhawatirkan akan mengancam kesehatan warga Pekanbaru dan
sekitarnya, terutama setelah ditemukan indikasi terbakarnya lahan
perkebunan karet dan tanaman bergetah lainnya di Kabupaten Kampar, Riau.

Berdasarkan hasil pengamatan di Pekanbaru, Kamis (12/6) pukul 13.30 waktu
setempat, keadaan udara yang berbahaya tersebut secara jelas tertera pada
papan panel Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang terletak di depan
Kantor Wali Kota Pekanbaru.

Papan panel menunjukkan, kandungan gas PM10 yang mencapai angka di atas 300
pada skala 500 (tertinggi) dan merupakan angka tertinggi dibandingkan
dengan kandungan gas-gas lain seperti Nitrogen Dioksida (NO2) dan Sulfur
Dioksida (SO2). Pada saat yang sama, kandungan gas Ozon (O3) juga
menunjukkan indikasi tidak sehat atau setingkat di bawah indikator berbahaya.

Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah (Bapedalda) Riau
Ahmad Syah Harrofie menyebutkan, kondisi udara berbahaya sudah berlangsung
sejak sehari sebelumnya, 11 Juni 2003.

Pada saat itu, papan panel ISPU menunjukkan kandungan gas PM10 yang
mencapai angka 356 pada skala 500.

“Udara Pekanbaru memang sudah mulai berbahaya karena kandungan
partikel-partikel asapnya sudah sangat tebal. Itu dibuktikan dari
angka-angka pada papan ISPU. Alat itu masih berfungsi dengan baik, jadi
angka-angkanya bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Ahmad mengaku heran dengan kondisi udara di Pekanbaru yang tergolong
berbahaya. Ini mengingat hujan justru mulai turun dua hari terakhir,
padahal sudah lima pekan tidak turun hujan di Pekanbaru.

“Karena lingkupan awam hujan di atas Riau, maka kami tidak mendapatkan
laporan tentang titik api dari satelit NOAA selama 11 Juni 2003, sebab
pandangan satelit tersebut terhalang. Akibatnya, data titik api terakhir
yang bisa kami dapatkan adalah data titik api sehari sebelumnya,” katanya.

Ahmad menyebutkan, data terakhir yang mereka peroleh dari satelit National
Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) diketahui bahwa jumlah titik
api di seluruh kawasan Riau pada 10 Juni 2003 sebanyak 566 titik.

Titik api itu sebagian besar berada di Kabupaten Kampar, yakni sebanyak 114
buah, 112 di Kabupaten Pelalawan, 81 lainnya di Rokan Hilir, 67 di
Bengkalis, di Rokan Hulu sebanyak 62, dan 31 titik api di Kabupaten
Indragiri Hilir.

Gunakan masker

Pada kesempatan terpisah, Wakil Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Ekmal
Rusdy menegaskan bahwa sudah saatnya bagi warga Pekanbaru dan sekitarnya
untuk menggunakan masker pelindung pernapasan.

Itu mengingat kondisi udara di Kota Pekanbaru sangat berbahaya akibat
kandungan partikel-partikel dari hasil pembakaran hutan dan lahan akibat
asap yang melingkupi kawasan Pekanbaru dan sekitarnya sejak Mei 2003. (oin)