KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Pada hari ini, 3 Desember 2007, pukul 10.00 WITA Nusa Dua, Bali – 15.000 Delegasi dan peserta konferensi perubahan iklim alias United Nation Climate Change Conference (UNCCC) mulai memadati ruangan Nusa Indah Hall di Hotel Westin Nusa Dua, Badung, Bali.

Konferensi dibuka secara resmi di Ruang Plenary 1 oleh Presiden COP-12 David Mwiraria (kenya). Dalam rangkaian ini diselenggarakan juga pemilihan Presiden COP-13/MOP-3 yang diikuti oleh pemberian pernyataannya. Senin (3/12/07) pukul 10.00 Wita, di tempat inilah nantinya pertemuan internasional yang membahas perubahan iklim akan pula dibuka oleh Presiden United Nation Framework Convention of Climate Change (UNFCCC) Kivutha Kibwana.

Pada sesi Pembukaan ini akan dilakukan oleh Sekretaris Eksekutif UNFCCC Yvo de Boer. Menteri Negara Lingkungan Hidup RI Rachmat Witoelar  terpilih menjadi Presiden ke-13 United Nations Framework Convention Climate Change (UNFCCC) yang diadakan di Bali 3-14 Desember 2007.

Pada saat ini Rahmat Witoelar tengah menyampaikan pidato dalam pembukaan konferensi yang dihadiri lebih dari 10 ribu utusan dari 189 negara peserta konferensi. Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan akan tiba di Nusa dua pukul 12.00 WITA. Dalam sambutannya, yang diadakan di Hotel Wiston, Nusa Dua, Badung, Bali, Rachmat menyatakan akan berkomitmen penuh mendorong dunia ikut serta dalam mempercepat program pelestarian lingkungan.

"Dengan diadakannya konferensi ini, diharapkan segala macam penelitian yang berkaitan dengan perubahan iklim dunia dapat menjadi pertimbangan negara-negara di dunia untuk semakin sadar akan pelestarian lingkungannya," ujarnya.

Dia menargetkan akan menghasilkan sebuah persetujuan yang hasilnya positif, serta terus mendorong pencegahan perubahan iklim dengan program-program yang komprehensif.

"Kita harus sadar bahwa pelestarian lingkungan sangat penting dalam menjaga dunia dari kehancuran," ujarnya.

Agenda pada hari pertama ini di antaranya pembagian komisi sidang konferensi. Beberapa agenda yang akan dibahas dalam komisi adalah upaya penghijauan kembali hutan oleh negara-negara berkembang, dampak efek rumah kaca, dan amandemen sejumlah artikel dalam Protokol Kyoto.

Delegasi yang datang tidak hanya perwakilan negara, tapi juga LSM dan lembaga-lembaga terkait seperti WWF dan IMF. Pertemuan ini rencananya akan dihadiri 7 kepala negara, salah satunya PM Australia Kevin Rudd. Delegasi Indonesia dipimpin Emil Salim. Pada acara yang berlangsung hingga 14 Desember ini akan dilangsungkan 800 sesi pertemuan dan 203 acara side event. Pertemuan ini akan membahas pengganti Protokol Kyoto yang akan kadaluwarsa pada tahun 2012.

"UNFCCC tidak hanya membahas isu masa depan tentang perubahan iklim tapi juga isu-isu yang tertunda yang sudah menggantung beberapa lama," kata Direktur Pembangunan, Ekonomi dan Lingkungan Hidup Departemen Luar Negeri RI, Salman Al-Farisi di Bali, Senin (3/12).

Salman menjelaskan bahwa isu yang tertunda itu antara lain adalah mengenai dana adaptasi dan pengurangan emisi. Tentang dana adaptasi, lanjut Salman, diharapkan dalam Konferensi Bali dapat disepakati siapa atau lembaga apa yang akan mengatur dana adaptasi yang nantinya akan dimanfaatkan oleh negara-negara berkembang. "Selama ini kan belum ada kesepakatan tentang itu," katanya seraya menjelaskan kemungkinan bentuk lembaga atau organisasi yang disepakati.

Kemudian, menurut Salman, adalah masalah pengurangan emisi akibat deforestasi. "Kita harapkan dapat disepakati hal-hal yang kita inginkan, misalnya pelaksanaan pilot project tentang metode pemberian insentif dan Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM) di bidang forestasi," jelasnya.

UNFCCC yang digelar di Bali adalah konferensi iklim terbesar dalam beberapa tahun terakhir yang bertujuan untuk menyepakati suatu pengaturan baru pasca Protokol Kyoto yang akan berakhir pada 2012. "Kita harap akan sudah dapat disepakati suatu mekanisme baru sebelum 2012," ujarnya.

NUGIE Ajak Dunia Berbagi dan Valerina Daniel Tinggalkan TV !

Nusa Dua – Sebelum konferensi perubahan iklim (United Nations Climate Change Conference/UNCCC) dibuka, delegasi dan peserta konferensi perubahan iklim dihibur oleh penyanyi Indonesia.

2 Layar putih berukuran raksasa mempertontonkan penyanyi Nugie dkk di Hotel Westin Nusa Dua, Badung, Bali, Senin (3/12/2007). Nugie menyanyikan lagu tema peduli lingkungan. Syairnya "Berbagilah pada dunia, bukalah mata dan hati untuk berbagi."

Selain Nugie, penyanyi lainnya yang juga ikut serta yakni Iwa K, Dea Ananda, Titi Dj, Tasya, dan Pongky Jikustik.

Latar belakang video klip mereka bumi dan pohon kering tanpa daun. Tiap-tiap penyanyi membawa kertas berbentuk daun yang bertuliskan antara lain langit biru, hemat listrik, reduce, dan reuse.

Kertas tersebut diletakkan di pohon yang kering kerontang tersebut. Beberapa dari penyanyi mengenakan baju berwarna putih bertuliskan ‘C0′ yang artinya cegah kerusakan.

Tampak peserta cukup terhibur. Begitu nyanyian berdurasi 5 menit tersebut usai, sambutan tepuk tangan membahana.

Sedangkan untuk sementara, pemirsa televisi bakalan jarang melihat wajah cantik Valerina Daniel di layar kaca. Runner-up Puteri Indonesia 2005 ini sudah "dipinang" Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), untuk bertugas sebagai pegawai lokal Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perubahan Iklim ke-13 (UNFCCC) di Bali, awal Desember 2007. "Untuk sementara, saya `pensiun` dulu," katanya, sambil tersenyum.

Saat jumpa pers, Valerina tampak luwes dan menguasai materi dampak global warming (pemanasan global), ketimbang duta lainnya dalam program yang disponsori Toyota tersebut. Dasar "orang berita", saat mencontohkan efek pemanasan global saja, Valerina mengutip pemberitaan banjir pasang air laut yang menggenangi ruas jalan tol ke Bandara Soekarno-Hatta.

Singkat cerita, menurut Valerina, "diperkirakan, pada tahun 2020, kalau kita tidak melakukan pencegahan apa pun, termasuk di Bandara-Hatta, itu akan hilang," katanya, seraya menambahkan, "Jadi kalau anda-anda punya saudara-saudara yang suka ke Ancol, ya nikmatin sekarang."

Jangan Politis.

Nusa Dua – Konferensi Perubahan Iklim/United Nations Climate Change Conference (UNCCCC) sudah dimulai. Konferensi ini diharapkan tidak dibawa ke arah politis.

Harapan ini disampaikan pimpinan delegasi Indonesia Emil Salim dalam di sela acara UNCCC di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, Senin (3/11/2007). Konferensi ini digelar oleh United Nations Framework Convention For Climate Change (UNFCCC).

"Biarlah ilmuwan saja yang berbicara mengenai prediksi-prediksinya akan perubahan iklim dan pemanasan global, jangan dibawa ke arah politis," ujarnya.

Pernyataan ini berkaitan dengan kedatangan delegasi AS dalam pertemuan ini, yang masih menimbulkan pertanyaan apakah AS akan ikut menandatangani ratifikasi tentang perubahan iklim sebagai kelanjutan pelaksanaan protokol Kyoto.

Emil mengatakan bahwa dalam pertemuan ini 194 negara yang hadir akan membahas (mereview) menganai pelaksanaan protokol Kyoto yang tenggat waktunya berakhir 2012.

"Jadi bagaimana progressnya sampai saat ini, selain itu jika 2012 sudah lewat, apa yang menjadi sasaran selanjutnya, jadi kita lihat bagaimana mitig
asinya," tutur dia.

COOL ENERGY EXHIBITION CARE FOR THE CHANGE

Sedangkan secara paralel, acara kongres ini juga akan dimeriahkan dengan kegiatan pameran yang bertema "Cool Energy Exhibition – Care for the Change. Welcome to the Island of Paradise, Welcome to Bali! begitu kurang lebih ajakan dari Panitia penyelenggara yang di organizer oleh POPULIH.

Grand Opening akan di buka pada pukul 17.00 waktu setempat dan di tutup 14 Desember 2007. Sedangkan pameran sendiri akan berlangsung setiap hari dari tanggal 8 sampai 14 Desember 2007. Mulai dari pukul 10.00 hingga 21.00 Waktu Bali. Informasi tentang pameran dapat dilihat di http://www.menlh.go.id/pameran2007/

Sumber Berita:
Berbagai Sumber.