KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Press Conference, 7 Desember 2007

 

Pak Emil Salim:

Perkembangan baru yang terjadi adalah:  Pertama, para ahli sepakat untuk membicarakan isu transfer teknologi di SBI. Kedua, kita sudah memiliki kontrak grup untuk mendiskusikan mengenai susunan kelembagaan para ahli di bidang transfer teknologi. Kedua perkembangan baru tersebut memberikan dampak yang positif dalam konperensi.  

Agar proyek-proyek CDM bisa diterapkan di negara-negara sedang berkembang, hasil evaluasi menunjukkan bahwa kita memerlukan penyederhanaan CDM. Ini perlu dilakukan karena di negara-negara sedang berkembang, kapasitas nya masih rendah, sehingga biaya pelaksanaan CDM perlu ditekan. Meskipun demikian, yang penting dalam hal ini adalah bahwa proyek-proyek CDM bukan semata soal pendapatan – atau bagaimana mendapatkan sejumlah uang, melainkan juga soal alih teknologi.

Dua hari sebelumnya, Pemerintah Indonesia telah menyetujui program CDM dengan perusahaan gas yang mampu mengubah gas buangnya menjadi energi.

Ada dua hal yang bisa kita ambil hikmahnya, pertama kita mengurangi emisi gas CO2 dengan membatasi gas buang. Kedua, memanfaatkan gas buang menjadi energi baru. Upaya ini sesuai dengan apa yang telah digagas dalam CDM. Tapi yang paling penting yang saya perlu tekankan di sini adalah bahwa Indonesia memerlukan teknologi yang digunakan untuk mengolah kembali gas buang tersebut melalui CDM. Kedua, Indonesia tidak hanya memerlukan teknologi tersebut, melainkan juga pembangunan kapasitas (capacity building)

Dengan demikian ketika kita berbicara soal CDM, pertama adalah soal pengurangan karbon. Kedua, adanya alih teknologi. Ketiga, alih teknologi harus diikuti dengan pembangunan kapasitas. Keempat, semua ini diperoleh melalui upaya kompensasi.

Ibu Liana Bratasida: 

Salah satu komentar yang muncul terkait dengan CDM adalah soal distribusi proyek CDM di daerah-daerah. Sebelumnya perlu dipahami bahwa proyek ini bukanlah soal bagaimana mendistribusikannya secara merata. Dialog yang berkembang adalah bagaimana supaya proyek-proyek CDM tersebut bisa didistribusikan di negara-negara sedang berkembang seperti di negara-negara di Afrika dan juga di Asia Tenggara, karena negara-negara tersebut sudah punya metodologinya. Metodologi ini bisa langsung digunakan untuk mempercepat proses penerapan CDM.

Mengenai DNA (Designated Operational Authority), saat ini kami sedang mempersiapkan sebuah manual untuk DNA. Manual ini dibuat agar DNA dapat melakukan tugasnya dengan baik untuk melakukan validasi proyek-proyek CDM.

Sumber:

Media Center KLH

Nusa Dua – Bali