KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

RANGKUMAN BERITA UNCCC BALI 2007
SENIN, 3 DESEMBER 2007

BALI TALKS SEEK BALANCE ON CLIMATE CHANGE, ECONOMY(The Jakarta Post)

Executive Secretary UNFCCC, Yvo de Boer mengatakan bahwa sebagian besar negara telah menyampaikan komitmen mereka untuk menciptakan suatu kesepakatan baru pada tahun 2009 sebagai pengganti tahap pertama Protokol Kyoto yang akan berakhir pada tahun 2012. China dan India menunjukkan keinginannya untuk mendayagunakan sumber daya mereka untuk mengurangi dampak yang merugikan bagi lingkungan hidup. 

Masih menurut de Boer, apabila pertemuan Bali ini gagal menghasilkan suatu kesepakatan, terdapat kemungkinan beberapa negara akan meminta peserta untuk menyepakati suatu perjanjian yang mengikat secara hukum, yang hampir dapat dipastikan akan ditentang oleh negara-negara maju.

PENGURANGAN EMISI BAHASAN PERTAMA  (Jawa Post)

Konferensi lingkungan terbesar di dunia tersebut akan diikuti oleh sekitar 9.000 peserta dari 186 negara, keterlibatan 300 LSM internasional, diliput oleh 300 media internasional dan lebih dari 1.000 orang wartawan.

Isu yang akan dibahas pada sesi-sesi awal konferensi Bali adalah negosiasi pengurangan emisi oleh negara maju dan berkembang. UNFCCC menginginkan agar negara maju dapat mengambil posisi terdepan dalam menghadapi isu perubahan iklim.

MODEL EKONOMI DUNIA GAGAL (Kompas)

Solusi untuk menghadapi perubahan iklim dipandang harus memberikan koreksi mendasar terhadap model ekonomi global. Pandangan ini dikemukakan oleh Chalid Mohammad dari WALHI. Pandangan serupa disampaikan oleh Larry Lohman dan Jutta Kill dari kelompok Durban untuk Keadilan Iklim, yaitu kelompok independen yang menolak pendekatan pasar untuk perubahan iklim. 

Menurut keduanya, perdagangan karbon sama sekali tidak memberikan solusi apapun, bahkan seperti memberikan lisensi kepada negara maju dan pihak-pihak penghasil emiksi lainnya untuk terus mencepari asalkan mampu untuk membeli hak emisi dari pihak lain.

UN WANTS US ROLE IN NEW CLIMATE DEAL( The Jakarta Post)

Keterlibatan Amerika Serikat dalam negosiasi mengenai solusi jangka panjang tentang perubahan iklim dipandang sangat penting oleh dunia. Demikian disampaikan oleh Executive Secretary UNFCCC, Yvo de Boer. Oleh sebab itu, diharapkan agar proses negosiasi di Bali dapat mengakomodasi kepentingan Amerika Serikat melalui kesepakatan baru yang dapat membuka jalan bagi keberhasilan rejim baru pengganti Protokol Kyoto. 

Pembuatan instrumen pengendalian perubahan iklim yang dapat “memaksa