KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Ringkasan Wawancara

Bapak Rachmat Witoelar dengan KBR68 H

6 Desember  2007 pukul 10.00-10.30 WITA

T: Mengapa sementara Indonesia di dorong untuk terus menanam pohon sementara Negara maju untuk terus menghasilkan emisi?

J: Negara berkembang memang sudah berkomitmen untuk menanam. Namun dilain pihak, untuk masalah penurunan emisi memang sulit karena tidak ada sanksi.

T: Terkait dengan penerapan transfer teknologi, di lain pihak energi ramah lingkungan masih mahal.

J:   Penerapan teknologi transfer memang masih berproses terus, dimana ada pendekatan insentif dan disinsentif. Semua Negara memang mempunyai kepentingan masing2 namun ada satu indikasi positif dimana semua bertujuan untuk menyelamatkan bumi. Nuansanya berbeda tapi memiliki prinsip yang sama: memerangi climate change.

T:  Proses negosiasi memerlukan waktu yang lama, sementara keadaan bumi semakin menurun. Mengapa hanya Negara berkembang yang harus menanam pohon?

J:  Oleh karena Negara berkembang rata2 memiliki area yang luas, seperti Indonesia. Selain itu, keuntungan dari menanam pohon adalah untuk menyerap CO2, sehingga kita tidak perlu menutup industri untuk mengurangi emisi. Saya sendiri kebetulan sbg pemimin dalam konperensi ini, berusaha mendorong semua Negara terutama Negara berkembang maupun G77.

T:  Pertanyaan mengenai ratifikasi

J:  Memang ada perbedaan kepentingan. Negara maju ingin menekan Negara berkembang untuk membantu menyerap karbon, sementara Negara berkembang ingin Negara maju mengurangi emisi dari industri.

T:  Post Kyoto protocol?

J: Revitalisasi Kyoto, terutama dalam penerapan project, agar Negara berkembang dapat keuntungan, karena banyak Negara maju yang tidak menepati janji.

Pesan dari Bapak Rachmat Witoelar:

Sebagai wakil dari Negara maju dan Negara berkembang, saya harap semua ikhlas untuk bersama menurunkan emisi. Negara maju berusaha mengurangi emisi dan Negara berkembang melaksanakan sustainable development.