KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Side Event

Climate Change and the Role of Cities

Presenter UN Habitat

Peningkatan suhu global akan menyebabkan perubahan pola cuaca dan meningkatkan permukaan air laut. Perkotaan sangat terpengaruh karena perubahan iklim.  Tetapi wilayah perkotaan juga merupakan salah satu penyebab utama perubahan iklim itu sendiri, melalui besarnya emisi yang dihasilkan.  Sebanyak 80% dari gas rumah kaca dihasilkan dari kegiatan masyarakat perkotaan, karbondioksida yang ada di atmosfir dihasilkan 85% dari kegiatan di kota, demikian juga dengan semua kegiatan seperti transpportasi, konstruksi, rumah tangga. Jika usaha untuk mengurangi dampak perubahan iklim, maka harus mempertimbangkan kebutuhan perkembangan kota untuk masa mendatang.  Pendekatan dan aksi yang terintegrasi di tingkat global, nasional, dan local maka penanganan masalah pemanasan global akan sukses untuk diantisipasi.

Bahan bakar fosil yang dipakai untuk menghasilkan energi dan Kegiatan penebangan hutan menghasilkan karbon dioksida.  Gas metan dan nitrat oksida dihasilkan dari kegiatan pertanian, perubahan pemakaian lahan dan kegiatan lainnya.   Transportasi industri dan kegiatan rumah tangga (perkotaan) menghasilkan apa yang disebut gas rumah kaca.  Kenaikan konsentrasi gas rumah kaca akan merubah iklim.  Melalui penyerapan radiasi infra merah, gas rumah kaca ini akan mengatur aliran energi melalui sistem iklim.  Sebagai respon terhadap emisi kegiatan manusia, iklim akan mengatur ketebalan gas rumah kaca dalam rangka mengatur keseimbangan antara energi cahaya matahari dan energi yang kembali dipantulkan ke angkasa.  Pengamatan menunjukkan bahwa suhu global meningkat sebesa 0,6 oC lebih sampai abad ke-20.  Ada bukti baru dan kuat bahwa pengamatan pemanasan global dalam 50 tahun terakhir adalah merupakan kontribusi kegiatan manusia.

Tetapi wilayah perkotaan juga merupakan wilayah yang terkena dampak dari perubahan iklim itu sendiri, sering disebut dengan disproportional affected atau dampak yang tidak proporsional, khususnya perkotaan di pesisir dan negara-negara berkembang.  Sehingga peran kota dalam mengurangi dampak perubahan iklim juga sangat signifikan.

Gambar berikut menggambarkan hubungan jumlah penduduk dan jumlah emisi yang dihasilkan.  Dari gambar tersebut jumlah emisi karbondioksida yang dihasilkan ternyata tidak berbanding lurus dengan jumlah penduduk yang ada di kota-kota tersebut.  Beberapa faktor penyebabnya antara lain adalah kegiatan industri, transportasi, dan bukaan bentang alam, dan pemanfaatan energi perkapita serta daya serapan karbon di kota tersebut.  Jika dikaitkan dengan hanya dengan jumlah penduduk, maka grafik tersebut berbanding lurus.

Kota-kota dapat berkontribusi dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dalam berbagai cara diantaranya efisiensi penggunaan energi, perbaikan kualitas udara dan peningkatan kesehatan manusia.  Pengenalan pemanfaatan energi terbarukan, teknis produksi bersih dan pengembangan peraturan dalam mengendalikan emisi dari kegiatan industri di perkotaan.  Penekanan pada efisiensi energi dengan menggunakan cahaya matahari untuk pemanas air, disain arsitektur untuk tujuan pendinginan dan pemanasan sangat besar dampaknya dalam mengurangi konsumsi energi di perumahan-perumahan kota.

Selain itu mengurangi kemacetan lalu lintas di jalan melalui sistem pengaturan yang baik sangat besar dampaknya dalam meredam emisi karbondioksida.  Pengenalan moda transportasi yang tidak menggunakan mesin (non motorized vehicle) juga mengurangi emisi karbondioksida ke udara.

Dapat disimpulkan bahwa pengembangan penanganan masalah global memerlukan aksi di semua level, termasuk dari tingkat kota.  Hubungan yang kuat antara lokal, nasional, regional dan global menjadi sangat penting jika kota dibebankan untuk menyelesaikan permasalahan pemanasan global yang diserahkan kepadanya.  Pemanasan global merupakan kehidupan keseharian yang harus disikapi dengan program dan aksi nyata dari perkotaan.

Sumber:

Agus Rusly dan Sabar Ginting

Kementerian Negara Lingkungan Hidup