KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Edisi kali ini Serasi mengangkat tema Produk Bersih, Serasi telah mewawancarai Deputi VII Kementerian Lingkungan Hidup Ibu Masnellyarti Hilman, berikut petikan wawancara yang dilakukan oleh tim Serasi belum lama ini:

Serasi : Apa yang dimaksud dengan Produk Bersih?

Deputi VII KLH : Produk bersih merupakan pendekatan pengelolaan lingkungan hidup inovatif yang bertujuan untuk meningkatkan eksistensi suatu kegiatan. Produksi Bersih, secara definitif kita katakan suatu sistem pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif terintegrasi yang dilaksanakan secara berkesinambungan terhadap proses dan jasa untuk meningkatkan ekosistensi dan mengurangi terjadinya resiko terhadap manusia dan lingkungan. Produk Bersih ini menuntut perbaikan berkelanjutan tidak hanya dalam hal efisiensi dan distribusi bahan yang menggunakan perangkat teknologi ataupun pelaksanaan praktek-prakteknya. Jadi Produksi Bersih memerlukan upaya dalam merubah pola pikir sikap dan tingkah laku serta penerapan moral dan juga teknologi.

Serasi : Mengapa kita perlu melakukan/menerapkan konsep Produk Bersih?

Deputi VII KLH : Konsepnya, jika kita melihat bahwa dahulu itu kita lebih mengenal pengendalian dampak lingkungan dengan upaya pengendalian pencemaran. Masalah yang kita hadapi disini adalah harus ada peraturan perundangan, harus ada pengawasan yang ketat, ini seringkali tidak berjalan, dilain pihak kalaupun ini berjalan artinya ada biaya yang ditanggung oleh industri untuk melakukan pengolahan limbahnya. Industri menyikapi untuk tidak menghasilkan limbah, yaitu mencoba lebih efisien karena biasanya limbah yang dihasilkan terjadi akibat tidak efisiennya penggunaan bahan baku atau terlalu boros dalam berproduksi. Mungkin ceceran-ceceran limbah yang tidak berbahaya dan tidak beracun tercampur dengan limbah yang mengandung racun sehingga jumlah limbah yang tercecer itu menjadi banyak. Jika kita melakukan efisiensi dalam melakukan produksi tentu jumlah limbah yang dihasilkan akan sedikit sehingga terjadi penurunan biaya pengolahan limbah. Dengan demikian hasil akhirnya menjadi tidak beracun atau tidak berbahaya, sehingga mengurangi costnya.

Serasi : Apa keuntungan dan manfaat produk bersih, baik bagi industri maupun pemerintah itu sendiri?

Deputi VII KLH : Dengan dilakukan produksi bersih ini akan lebih mengefisienkan si pelaku industri. Di lain pihak lingkunganpun dapat terselamatkan jadi kedua belah pihak saling diuntungkan dengan dilaksanakan konsep Produk Bersih dan jelas sekali banyak manfaatnya. Beberapa industri yang bersifat memproduksi barang yang diperuntukkan untuk ekspor biasanya melakukan konsep ini karena untuk ekspor ke negara-negara maju misalnya Eropa, Jepang, Amerika mereka sudah mensyaratkan konsep produk bersih sehingga mereka (pengusaha) berpikir lebih baik melaksanakannya walaupun tidak secara drastis tapi bertahap. Karena produk bersih ini memerlukan teknologi yang tepat. Banyak hal yang bisa dilakukan dalam hal produk bersih ini seperti dengan cara memperbaiki dalam reduksi pada sumbernya, misalnya dengan cara Good Housekeeping yaitu, dengan cara penanganan di sekitar pabrik atau tempat usaha. Misalnya yang sering tejadi di pabrik-pabrik kecil dalam hal penanganan limbahnya yang hanya diangkut secara manual pasti akan terjadi tumpahan-tumpahan limbah. Alangkah lebih baiknya jika dalam hal pengangkutan limbah itu digunakan Belt Conveyor sehingga resiko terjadinya tumpahan-tumpahan limbah tersebut kemungkinan kecil akan lebih sedikit, atau bisa juga kita lakukan pendekatan jarak antara alur pembuangan limbah tersebut. Itu adalah sedikit contoh dari pada Good Housekeeping. Konsep tersebut sudah merupakan konsep Kementerian lingkungan Hidup yang mana sudah ada beberapa industri yang melaksanakan. Seperti industri kulit, tekstil dan karet.

Serasi : Upaya yang dilakukan kepada Industri kecil yang ditempuh oleh KLH?
Deputi VII KLH : Sekarang ini pihak KLH rencananya akan melakukan training bagi industri-industri kecil sehingga mereka dapat menjalankan konsep ini dengan benar. Training-training sudah mulai dilakukan pada pengusaha-pengusaha kecil di industri kulit dan tekstil di daerah Jawa Tengah dan Bandung. Program ini adalah bantuan kerjasama antara Indonesia dengan BBCEF yang intinya memberikan bantuan berupa asistensi kepada mereka dengan mengadakan pertemuan-pertemuan antara para pengusaha kecil dengan pihak KLH. Tetapi kendalanya pertemuan itu hanya pada tingkatan atau level pimpinan. Sedangkan mereka minta juga diadakan pada tingkatan atau level operasionalnya. Jadi akan diusahakan adanya transfer of knowledge yaitu melalui PSL atau tenaga-tenaga ahli atau Lembaga Swadaya Masyarakat yang ahli di bidang ini akan juga ditraining jadi training for trainer. Kementerian Lingkungan Hidup bekerjasama dengan pemerintah daerah melakukan identifikasi beberapa industri yang terdiri dari jenis industri lalu diundang mereka dan diperjelas kepada mereka untuk mau tidak terlibat dalam konsep ini. Tetapi tidak semua industri mau melakukan konsep ini oleh karena itu pihak KLH sebagai pilot proyek ini untuk membuatkan guidelines nya setelah itu melalui asosiasi disebarluaskan setelah itu training for trainer akan ada di setiap daerah sebagai konsultan. Kendala yang terjadi pada perusahaan menengah keatas dari segi pembiayaan, jika mereka harus mengubah proses perlu waktu jadi mereka melakukan secara bertahap, tetapi pihak KLH juga memberikan bantuan pinjaman lunak kepada industri-industri yang akan melakukan perubahan-perubahan itu. Dana tersebut didapat dari Grant BBCEF dari Jerman dan pinjaman lunak tersebut dapat diperoleh melalui Bank Mandiri, Bank Nagari dan BRI mereka bisa mengajukan proposal kepada KLH atau di daerah terdapat konsultan-konsultan yang melaksanakan lalu diajukan, dievaluasi apakah layak memang permintaan itu, berdasarkan evaluasi itu maka diperintahkanlah Bank untuk mengeluarkan dana untuk keperluan peralatan-peralatan di bidang itu. Tetapi dana pinjaman lunak tersebut merupakan dana bergulir yang sangat besar manfaatnya karena jika dana yang dipinjam itu telah dikembalikan akan terus berkembang untuk membantu industri-industri menengah kebawah lainnya. Proyek ini dimulai pada tahun 1997.

Serasi : Apa kaitan produk bersih dengan manajemen lingkungan?

Deputi VII KLH : Di dalam sistem manajemen lingkungan kita melakukan manajemen lingkungan memperbaiki sesuatu secara sukarela dan berkesinambungan inipun dalam produk bersih harus secara bertahap (Good Housekeeping, Daur ulang, Perubahan proses) dalam sistem manajemen lingkungan harus ada program untuk memperbaiki upaya kita dalam pengelolaan lingkungan berkesinambungan jadi misalnya kita mengatakan dalam statement ISO 14001 berhenti mengupayakan penurunan jumlah limbah atau dengan melaksanakan produk bersih tersebut bagaimana caranya, tahun pertama kita melakukan Good Housekeeping tahun kedua instalasi daur ulang,lalu berlanjut terus hingga proyek tetap berjalan tetapi tidak memberatkan perusahaan.

Serasi : Misi dan Visi Deputi VII untuk mewujudkan Produk Bersih?

Deputi VII KLH : Pada proyek produk bersih ini adalah KLH akan membuat suatu proyek yaitu membangun pusat produksi bersih nasional (National Center For Cleaner Production) yang berfungsi sebagai vocal point dalam clearing house untuk produk bersih dan koordinasi untuk clearing kerja produksi itu. Sedangkan visinya adalah sebanyak mungkin aktivitas pembangunan dilaksanakan dalam konsep produk bersih ini, tetapi dalam hal ini kita lakukan secara bertahap.

Menekan Biaya

Beberapa Penerapan Produk Bersih (Cleaner Production), yang berhasil diterapkan pada industri diantaranya yaitu PT Dharma Polimetal, penerapan yang dilakukan yaitu pada efisiensi air sebesar 2 liter per menit dan penggunaan bahan kimia serta efisiensi terbentuknya limbah. Biaya investasi Rp. 12.637.000,- jangka waktu pengembalian satu bulan dan bisa menghemat biaya Rp.134.865.000,- satu tahun pertama.

Sedangkan PT Maxsus Southeast Sumatera, Inc, bisa menghemat biaya Rp. 171.000.000,- per hari, dengan efisiensi penggunaan gas ikuta, penyelenggaraan program lingkungan. Pada PT Caltex Pasifik Indonesia berhasil menekan biaya US$16,8 juta dengan menerapkan daur ulang air, pengolahan emisi udara/pemanfaatan ulang. Selain itu banyak juga perusahaan yang bisa menekan biaya perusahaan dengan menerapkan Produk Bersih ini.