KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 6 Desember 2005. Indonesia diwakili oleh Kementerian Lingkungan Hidup dalam pertemuan Informal ASEAN Ministerial Meeting on the Environment (IAMME) diberi kesempatan untuk menyelengarakan “Workshop on Development of Key Indicator for Clean Air, Clean Water and Clean Land; and Awards to Promote Environmental Sustainability in Asean Cities”. Pertemuan ini di buka oleh Ir. Arief Yuwono M.A. Sekretaris Menteri Negara Lingkungan Hidup di Hotel Atlet Century Park. Workshop ini berlangsung hingga tanggal 8 Desember 2005.

Tujuan diselengarakan Workshop ini mengembangkan kerangka regional untuk indicator kinerja lingkungan yang meliputi ‘clean air’, ‘clean water’ dan ‘clean land’ untuk negara-negara ASEAN.Selain itu tukar menukar informasi tentang kriteria, struktur dan mekanisme “Award” untuk kota bersih dan hijau di ASEAN, dimana salah satunya dengan pembelajaran dari program Bandar Lestari di Malaysia dan Program Adipura di Indonesia.

Para presenter pada sesi pertama memang lebih berbicara mengenai program-program negaranya masing-masing, terutama mengenai dua poin diatas. Tetapi yang menarik dalam diskusi kali ini adalah banyaknya para ahli yang menjadi pembicara dalam kerangka udara bersih, air dan pengelolaan lahan yang berwawasan lingkungan atau tata kota yang berwawasan lingkungan. Lembaga Internasional seperti United Nations Environment Program, Worls Bank, Hanns Seidel Foundetion, JICA, USAid, GTZ, United Nation Centre for Regional Develompent, Asin Institute of Technology dan Swedish Institute of Environment Research turut menyemarakan workshop.

Pembicaraan berkembang mulai dari kesepakatan WSSD 2002, penanganan sampah, transportasi massal, tata kota hingga udara. Dalam hal udara Prof. Hans Lundberg dari Swedish Institute of Environment Research. Memberikan gambaran yang sangat menarik dan sangat sederhana. Dalam paparannya negara-negara seperti USA, Jepang dan eropa, serta eropa timur adalah negara-negara penyumbang CO2 terbesar di dunia dibandingkan negara dunia ketiga yang menyumbangkan CO2 paling kecil. Tetapi dikemudian hari negara-negara dunia ketiga, ketika perekonomian dan industrinya membesar, bisa menyumbangkan emisi terbesar menyamai negara seperti USA. Seperti telah diketahui, USA adalah negara yang sampai saat menolak berbagai perjanjian internasional mengenai pengurangan emisi udara. Maka dalam penanganan projek tata kota yang berwawasan lingkungan harus mempunyai visi Konsep yang holistik dan berkelanjutan, Kesehatan dan keamanan, Terintegrasi, permasalahan kependudukan yang bersinergi dan hubungan internasional.

Selain paparan yang “genuine” dari beberapa presenter baik negara ASEAN dan perwakilan masyarakat Uni eropa, ada yang menarik lainnya tentang program PROPER. PROPER adalah produk pengawasan lingkungan yang “asli Indonesia”, yang telah diadaptasi dibeberapa negara peserta. Penilaian peringkat lingkungan terhadap perusahaan ini menjawab keraguan yang selama ini yang dialami negara-negara uni eropa maupun negara-negara yang telah menandatanggani perjanjian Internasional. Dalam hal ini, Kementerian Lingkungan Hidup menjelaskan bahwa pemberian penghargaan kepada Industri yang berwawasan Lingkungan tahun 2005 akan dilakukan pada acara “Malam Anugerah Lingkungan 2005″ yang akan diselenggarakan pada bulan Desember tahun ini.

Dalam aspek ekonomi, saat ini PROPER telah diadaptasi oleh perbank-an sebagai salah satu kriteria dalam memberikan pinjaman kepada industri. (Ry)

Informasi:
Asdep Edukasi dan Komunikasi
E-mail: edukom@menlh.go.id