KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 21 Mei 2008. Anggapan bahwa upaya pengendalian pencemaran hanya merupakan investasi yang tidak memberikan keuntungan ekonomis bagi perusahaan merupakan mitos lama yang tidak sepenuhnya benar. Paradigma kebijakan pengendalian pencemaran saat ini sudah berubah,  pendekatan command and control  telah disinergikan  dengan pendekatan co-benefit, dimana upaya-upaya pengendalian pencemaran diintegrasikan dengan peningkatan efisiensi proses industri sehingga perusahaan juga memperoleh keuntungan finansial. Pendekatan co-benefit dilakukan melalui peningkatan efisiensi energi, prinsip-prinsip pencegahan pencemaran secara preventif (pollution prevention), ekologi industri dan penerapan prinsip 3R (reduce, reuse & recycle). Pendekatan  ini memberikan keuntungan ganda kepada perusahaan, selain dapat mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan, juga memberikan keuntungan ekonomi bagi industri yang bersangkutan. Bisnis lingkungan tidak lagi merupakan beban bagi perusahaan, bahkan lingkungan sudah menjadi bisnis bagi perusahaan.

Salah satu peluang bisnis lingkungan yang harus segera dimanfaatkan adalah upaya pengendalian pencemaran dan sekaligus mitigasi perubahan iklim melalui perdagangan carbon. Sekitar 250 institusi finansial global telah memiliki komitmen untuk membiayai proyek-proyek yang menunjang upaya mereduksi emisi gas CO2. Jumlah aset institusi  ini mencapai US $ 10 trilyun atau kurang lebih 15 % dari perekonomian global. Peluang bisnis dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim ini sangat tinggi, karena pada tahun 2008-2012 pasar kekurangan kredit karbon 3,75 milyar ton CO2. Sampai dengan bulan April 2008 telah didaftar 979 proyek CDM, sebagian besar berada di India (32,89 %), China (17,77 %), Brasil (12,87 %). Peran Indonesia dalam  proyek-proyek CDM ini belum signifikan,  tercatat hanya 1,3 % dari total seluruh proyek CDM. Jumlah ini   bahkan jauh ketinggalan dibanding Malaysia (2,66 %) dan  Philipina (1,7 %).

Kesempatan sektor Energi dan Migas untuk memanfaatkan peluang ini sangat besar,  karena berdasarkan perhitungan Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) diperkirakan potensi emisi gas rumah kaca dunia selama 100 tahunan adalah 41.755 juta metrik ton setara CO2, 6,3 % berasal dari kegiatan eksplorasi, produksi dan pengolahan minyak dan gas, sedangkan dari kegiatan pembangkitan listrik mencapai 24,6 %. Sementara itu upaya-upaya cogenerasi,  flare reduction, fuel switching  dan energy eficiency sudah merupakan hal biasa bagi perusahaan minyak & gas serta pembangkitan listrik.  

Sebagai contoh PT. Odira Energy Persada telah mendapatkan persetujuan dari Executive Board Project CDM di UNFCC untuk proyek CDM pengurangan emisi gas rumah kaca secara sukarela. Proyek yang dikerjakan pada dasarnya memanfaatkan gas ikutan yang berasal dari lapangan Pertamina Tambun, yang sebelumnya dibuang percuma melalui pembakara di flare, kemudian diproses kembali menjadi LPG dan minyak. Produk ini kemudian dijual kembali ke konsumen.

Contoh yang lain adalah PT. Medco E & P Indonesia (Rimau Asset). Proyek CDM yang diajukannya  telah terdaftar di  Executive Board Project CDM di UNFCC.  Sejak tahun 2002, PT. Medco E & P Indonesia (Rimau Asset) membakar secara percuma gas ikutan sekitar 22 MMSCFD. Pembakaran melalui flaring ini menghasilkan gas CO2,  yang merupakan salah satu jenis Gas Rumah Kaca ke lingkungan. Melalui proyek CDM, gas yang dibakar sia-sia tersebut kemudian dirubah menjadi LPG  dengan kapasitas 80 ton/ hari dan kondensat dengan kapasitas 300 barrel/ hari. Selain itu gas tersebut digunakan untuk membangkitkan listrik dengan kapasitas 20 MW. Upaya ini akan mampu mengurangi emisi sebesar 1.962.280 ton gas rumah kaca setara CO2 selama tahun 2004 – 2014.

Chevron Geothermal Indonesia telah terdaftar sebagai proyek CDM dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Darajat Unit III. Proyek ini  diharapkan dapat membangkitkan 900.000 MWh/tahun, dan menghasilkan emisi yang sangat rendah yaitu 0.03 tCO2e/MWh. Dengan pembangunan pembangkit listrik panas bumi ini maka  emisi gas rumah kaca yang bisa dikurangi adalah sebesar 650,000 tCO2e/tahun, jika dibandingkan dengan pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar fosil untuk menghasilkan listrik yang sama.

Kegiatan migas Indonesia sebenarnya mempunyai peluang bisnis yang sangat besar  melalui proyek CDM ini. Berdasarkan studi Bank Dunia, kegiatan ekplorasi dan produksi migas Indonesia berdasarkan data tahun 2003 merupakan rangking ke empat di dunia berdasarkan jumlah gas alam yang dibakar secara percuma per tahun, dan merupakan rangking ke tiga jika di hitung berdasarkan jumlah gas yang dibakar per barel minyak yang diproduksi.

Untuk mendorong agar jumlah industri di sektor energy dan migas yang menjalankan proyek CDM meningkat, maka Asisten Deputi Urusan Pengendalian Pencemaran Pertambangan, Energi dan Migas Kementerian Negara Lingkungan Hidup menyelenggarakan Workshop Kebijakan  Pengendalian  Pencemaran dalam Rangka Mitigasi Perubahan Iklim Sektor Energi dan Migas.

Workshop ini bertujuan untuk membuka wawasan bagi pelaku-pelaku usaha dibidang energi dan migas tentang  peluang bisnis dalam upaya pengendalian pencemaran dan mitigasi perubahan iklim melalui mekanisme Clean Development Mechanism. Selain itu juga memberikan arahan tentang kebijakan pengendalian pencemaran dalam rangka upaya mitigasi perubahan iklim.

Workshop diikuti oleh sekitar 200 perwakilan perusahaan sektor minyak, gas, geothermal dan energi serta perwakilan dari Direktorat Jendral Migas, Direktorat Jendral Mineral, Batubara dan Panas Bumi, Direktorat Jendral Listrik dan Pemanfaatan Energi dan BP Migas.

Fact sheet

1. Potensi bisnis carbon dunia sangat besar karena 250 institusi finansial global dengan aset US $ 10 trilyun atau kurang lebih 15 % dari perekonomian telah memiliki komitmen untuk membiayai proyek-proyek yang menunjang upaya mereduksi emisi gas CO2.

2. Pada tahun 2008-2012 pasar bisnis carbon dunia kekurangan kredit karbon 3,75 milyar ton CO2.

3. Peran Indonesia dalam  proyek-proyek CDM ini belum signifikan,  tercatat hanya 1,3 % dari total seluruh proyek CDM. Jumlah ini   bahkan jauh ketinggalan dibanding Malaysia (2,66 %) dan  Philipina (1,7 %).

4. Sampai dengan bulan April 2008 telah didaftar 979 proyek CDM, sebagian besar berada di India (32,89 %), China (17,77 %), Brasil (12,87 %)

5. Kegiatan migas Indonesia sebenarnya mempunyai peluang bisnis yang sangat besar  melalui proyek CDM ini. Berdasarkan studi Bank Dunia, kegiatan ekplorasi dan produksi migas Indonesia berdasarkan data tahun 2003 merupakan rangking ke empat di dunia berdasarkan jumlah gas alam yang dibakar secara percuma per tahun, dan merupakan rangking ke tiga jika di hitung berdasarkan jumlah gas yang dibakar per barel minyak yang diproduksi.

6. PT. Odira Energy Persada satu-satunya perusahaan sektor migas yang saat ini telah mendapatkan persetujuan dari Executive Board Project CDM di UNFCC untuk proyek CDM. Proyek yang dikerjakan adalah memanfaatkan gas ikutan yang berasal dari lapangan Pertamina Tambun  yang sebelumnya dibakar di flare menjadi LPG dan minyak.

7. PT. Medco E & P Indonesia (Rimau Asset) telah memanfaatkan gas ikutan sekitar 22 MMSCFD yang sebelumnya dibakar percuma menjadi LP
G  dengan kapasitas 80 ton/ hari dan kondensat dengan kapasitas 300 barrel/ hari. Selain itu gas tersebut digunakan untuk membangkitkan listrik dengan kapasitas 20 MW. Upaya ini akan mampu mengurangi emisi sebesar 1.962.280 ton gas rumah kaca setara CO2 selama tahun 2004 – 2014.

8. Chevron Geothermal Indonesia dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Darajat Unit III selain menghasilkan listrik 900.000 MWh/tahun juga mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 650.000 ton CO2e/tahun.

9. Workshop Integrasi Kebijakan Pengendalian Pencemaran dengan  Mitigasi Perubahan Iklim Sektor Energi dan Migas dihadiri kurang lebih 200 peserta dari pelaku usaha sektor migas dan pembangkit listrik, instansi pemerintah, perguruan tinggi dan konsultan CDM. Workshop diselenggarakan oleh Asisten Deputi Urusan Pengendalian Pencemaran Sumber Pertambangan Energi dan Migas, yang saat ini dijabat oleh M.R. Karliansyah.

Sumber:
Asdep Urusan Pengendalian Pencemaran Sumber PertambanganEnergi dan Migas