KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

WONOGIRI daerah yang berbatasan dengan Pacitan-Jawa Timur, pada 2004 ini dijadikan tempat “Workshop Nasional Pengelolaan Kawasan Kars” yang berlangsung 4-5 Agustus 2004. Acara yang dihadiri oleh Menteri Energi Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro, Deputi Menlh Bidang Pelestarian Lingkungan, Drs Sudarijono, Bupati Wonogiri dan jajarannya, dibuka dengan pagelaran Reog Ponorogo.

“Kawasan karst memiliki potensi yang sangat besar, yaitu potensi keanekaragaman hayati yang unik, khas dan bersifat endemik. Keseluruhan potensi kawasan karst ini mempunyai nilai strategis, yaitu ekonomi, ekologi, kemanusiaan dan nilai ilmiah. Namun, pemanfaatan potensi kawasan karst secara tidak terkendali dapat mengancam keberlanjutan karst”. Ungkap Drs Sudarijono dalam sambutannya.

Sementara itu, Menteri ESDM dalam sambutan tanpa teks mengatakan bahwa adanya konflik kepentingan berbagai pihak dalam hal kawasan Karst, menuntut kita untuk segera menyusun suatu kebijakan pengelolaan kawasan karst yang berwawasan lingkungan yang dapat menjamin peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. “Kebijakan yang nanti akan disusun haruslah berlandaskan pada asas pemanfaatan kawasan karst secara adil, berimbang dan bijaksana berdasarkan kesepakatan besama seluruh stakeholder”. Lanjut Menteri yang disambut tepuk tangan peserta.

Dalam kesempatan itu, Menteri ESDM menyerahkan bantuan secara simbolik berupa tanki air yang memang sangat diperlukan oleh warga Wonogiri yang sedang dilanda kekeringan.

Catatan : Mengingat pentingnya nilai strategis karst, tahun 1994 Internasional Union of Speleologi secara aklamasi mengusulkan karst gunung sewu (Pacitan, Wonogiri, Wonosari/Pawonsari), karst Maros-Pangkep, dan karst pegunungan Tengah Irian Jaya-Lorent, sebagai warisan alam dunia (World Natural Heritage).

Sementara itu di luar Pendopo Wonogiri, kurang lebih 10 (sepuluh) stand pameran baik dari instansi pemerintah maupun Lembaga Swadaya Masyarakat, ikut meramaikan jalannya acara. Kementerian Lingkungan Hidup menghadirkan Mobile Exhibition yang menyajikan berbagai informasi lingkungan hidup baik buku, leaflet, photo-photo, internet (off line), dan berbagai media penyebaran informasi lainnya. Sementera itu, malam harinya stand Mobile Exhibition memutarkan film-film lingkungan seperti film ACIL, dokumenter Sungai Ciliwung, termasuk film kawasan karst Maros (Sulawesi Selatan), dan kawasan karst Gua Tabuhan.

Dalam pemutaran film yang dimulai pukul 19.20 WIB itu, sejumlah warga dan peserta workshop turut interaktif berdialog seputar pemutaran film dengan petugas stand KLH. Dengan pemutaran film dokumenter Sungai Ciliwung, penonton diingatkan untuk tetap menjaga lingkungan sekitar khususnya sungai agar tidak terjadi ‘kesemerawutan’ dan bencana seperti dalam film yang ditayangkan’. Begitu juga dengan pemutaran film ACIL (Anak Cinta Lingkungan).

Sementara, setelah pemutaran film karst Maros dan Gua Tabuhan, petugas stand KLH lebih banyak menerima informasi yang disampaikan oleh penonton khususnya peserta workshop. Hal itu, dimungkinkan karena penanganan karst di Kementerian Lingkungan Hidup masih tergolong baru.

Peserta pameran lainnya yang ikut meramaikan acara workshop antara lain Pemda Pacitan, Pemda Kebumen, Pemda Wonogiri, Pemda Gunung Kidul, Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan, Direktorat Inventarisasi Mineral dan Batu Bara, Puslitbang Geologi, serta sejumlah LSM seperti Asintia Sunyata (Jogja) dan LSM Leuseur ACEH.

Pada hari terakhir workshop, peserta diajak berkeliling mengunjungi daerah-daerah yang kaya akan karst. Acara tersebut dikemas dalam kegiatan fieldtrip.
(Bang2)

Informasi Lengkap :
Panitia Workshop Nasional Pengelolaan Kawasan Karst
Departemen ESDM – RI
Jl. Diponegoro No. 57 Bandung 40122
Tlp. 022 7274769 faks : 022 7206167
Email : workshop_karst@dgtl.esdm.go.id

atau :
Kabid Non Budidaya – Asdep Ekosistem Darat KLH
Email : arif_suwanto@yahoo.com