KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Press Release:

Pada tahun 1992 Konfrensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro menghasilkan Piagam Bumi (Earth Charter) dan Piagam 21 yang merekomendasikan kegiatan-kegiatan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Sepuluh tahun kemudian (2002) dan Piagam 21 yang merekomendasikan kegiatan-kegiatan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Depuluh tahun kemudian (2002) dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Agenda 21 yang di kenal dengan “WOrld Summit Sustainable Development” atau WSSD di Johannesburg, Afrika Selatan. Pertemuan tersebut merekomendasikan pentingnya 3 (tiga) pilar utama yang dapat menunjang pembangunan berkelanjutan yaitu pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan dan pengelolaan sumber daya alam.

Saat ini di Indonesia mulai tumbuh kesadaran di kalangan masyarakat luas tentang perlunya memperhatikan 3 pilar utama tersebut dalam rangka mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Yaitu pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan generasi saat ini namun tanpa mengurangi kesempatan bagi pemenuhan kebutuhan generasi mendatang. Dengan kata lain pembangunan ekonomi yang dilaksanakan tidak boleh berdampak negatif pada aspek sosial dan lingkungan sekitarnya.

Kondisi tersebut merupakan tantangan yang cukup menarik bagi para pelaku pembangunan khususnya dunia usaha di bidang industri ekstraktif (pertambangan, minyak dan gas). Mengingat kegiatan di bidang ekstraktif ini di satu sisi memberikan sumbangan yang cukup besar bagi pembangunan negara di bidang ekonomi. Namun di sisi lain kurang memberikan dukungan yang positif bagi pembangunan masyarakat sekitarnya. Selain itu pembangunan di bidang industri ekstraktif juga menimbulkan dampak lingkungan berupa pencemaran dan penipisan sumber daya alam.

Oleh karena itu seluruh “stake holder” di bidang ekstraktif perlu memikirkan langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam upaya kontribusi sektor pertambangan, minyak dan gas terhadap proses pembangunan Indonesia yang berkelanjutan. Sebagaimana kita ketahui industri minyak dan gas dapat menyebabkan peningkatkan gas-gas rumah kaca dan pemanansan global. Demikian juga dengan kegiatan pertambangan, sejak proses penambangan, pengolahan sampai pengangkutan dan pemanfaatannya menimbulkan berbagai dampak terhadap lingkungan, pada akhirnya akan berdampak pula pada keberlanjutan pembangunan itu sendiri.

Sebetulnya upaya mengintegrasikan aspek sosial dan lingkungan dalam industri ekstraktif sudah mulai dijalankan, namun masih menemui banyak kendala. Sehingga diperlukan keterlibatan dan kerjasama semua pihak yaitu pemerintah pusat dan daerah, masyarakat serta dunia usaha.

Pelaksanaan workshop ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran dan menyamakan persepsi di kalangan dunia usaha bidang ekstraktif tentang dukungan yang dapat diberikan sektor industri ekstraktif bagi tercapainya pembangunan yang berkelanjutan di Indonesia. Selain itu kita juga perlu belajar dari pengalaman negara-negara maju tentang persoalan lingkungan, sosial dan tantangan yang dihadapi industri ekstraktif serta upaya-upaya penanganannya. Untuk itu kami mengundang Wade E. Martin, Phd, Associate Professor Departement of economics & Program in Enviromental Science and Policy, California State University, USA. Disamping itu Prof. DR. Emil Salim akan pula menyampaikan penjelasan tentang dampak lingkungan dari industri ekstraktif yang ada di Indonesia.

Informasi lebih Lanjut:
Asdep Urusan Sarana Pengembangan SDM
Telp/fax : (021) 756-0065