KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

“Penelitian Ilmiah Sebagai Solusi Teknis Penyelamatan Ekosistem Danau Rawapening dalam Skala Super Prioritas”
Semarang, 13 Juni 2013 – Hari ini, Kementerian Lingkungan Hidup bersama dengan Universitas Diponegoro menyelenggarakan Workshop Penyelamatan Ekosistem Danau Rawapening dengan tema “Penelitian Ilmiah Sebagai Solusi Teknis Penyelamatan Ekosistem Danau Rawapening dalam Skala Super Prioritas”. Tujuan penyelenggaraan workshop ini adalah mencari solusi ilmiah dalam penyelamatan ekosistem Danau Rawapening sesuai dengan program prioritas yang telah ditentukan. Acara ini dihadiri oleh Rektor Universitas Diponegoro, Perwakilan Kementerian terkait, Perguruan Tinggi, Pejabat Pemerintah Daerah yang mewakili Pengelolaan 15 Danau Prioritas, Pemerhati Lingkungan dan Kelompok Masyarakat.

Sejalan dengan Kesepakatan Bali pada tahun 2009, maka telah disusun Rencana Aksi Penyelamatan Ekosistem Danau pada tahun 2011 di Semarang, Jawa Tengah dalam rangka Konferensi Nasional Danau Indonesia II (KNDI II) dengan mencanangkan “GERAKAN PENYELAMATAN DANAU (GERMADAN)”. Gerakan ini lahir dari kesadaran penuh atas perlunya upaya percepatan penyelamatan danau prioritas melalui kesepakatan komitmen bersama penyelamatan danau sebagai sebuah Gerakan Penyelamatan Danau. Gerakan ini menjadi momentum penyelamatan danau-danau di Indonesia. Gerakan Penyelamatan Danau (GERMADAN) adalah sebuah langkah tindak nyata implementasi berbagai pihak untuk secara bersama-sama memadukan program/kegiatannya yang dituangkan dalam Rencana Aksi Penyelamatan Danau. Implementasi Rencana Aksi Penyelamatan Danau dilakukan dengan memperkuat sinergitas kerjasama antar institusi terkait, seperti lembaga legislatif, pemerintah (pusat dan daerah), perguruan tinggi, swasta, TNI, para pakar/pemerhati lingkungan dan masyarakat sekitar danau. Model yang telah diterapkan di Danau Rawapening dapat menjadi model pemulihan yang dapat direplikasi ke 14 (empat belas) danau prioritas lainnya dengan memperhatikan kondisi dan permasalahan di masing-masing danau prioritas tersebut. Keempatbelas danau prioritas tersebut adalah Danau Toba (Sumatera Utara), Danau Singkarak dan Danau Maninjau (Sumatera Barat), Danau Kerinci (Jambi), Danau Rawa Danau (Banten), Danau Batur (Bali), Danau Tempe, Danau Matano (Sulawesi Selatan), Danau Poso (Sulawesi Tengah), Danau Tondano (Sulawesi Utara), Danau Limboto (Gorontalo), Danau Sentarum (Kalimantan Barat), Danau Mahakam (Semayang, Melintang, Jempang) (Kalimantan Timur), dan Danau Sentani (Papua).

Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim, Ir. Arief Yuwono, MA dalam sambutannya mengatakan bahwa “peran perguruan tinggi sangat diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran ilmiah untuk mempercepat upaya penyelamatan Danau Rawapening. Beliau juga menyampaikan kita semua perlu segera bergerak melaksanakan komitmen penyelamatan danau yang lebih komprehensif, konkrit dan nyata”.

Gerakan penyelamatan Danau Rawapening yang diluncurkan pada pelaksanaan Konferensi Nasional Danau Indonesia II tahun 2011 ini telah melahirkan suatu rencana aksi penyelamatan ekosistem Danau Rawapening. Program dan kegiatan penyelamatan tersebut antara lain:

Program Super Prioritas

  1. Penanganan Eceng Gondok
  2. Penanggulangan Lahan Kritis, Erosi, Banjir dan Sedimentasi
  3. Penurunan Kandungan Nutrien Perairan Danau Rawapening
  4. Kajian Limnologi Danau Saat ini dan Rekontruksi Kualitas Air di Masa Lalu
  5. Implementasi Pertanian Ramah Lingkungan
  6. Peningkatan Keterlibatan dan Kepedulian Masyarakat dalam Pengelolaan dan Konservasi Danau Rawapening

Program Prioritas (Penunjang)

  1. Pengembangan pengelolaan perikanan ramah lingkungan Danau Rawapening
  2. Pengembangan IPAL terpadu
  3. Pengembangan drainase terpadu
  4. Pengembangan pusat penelitian Danau Rawapening
  5. Perencanaan pembangunan kawasan Danau Rawapening berbasis kewilayahan dan kebijakan penanganan eceng gondok dengan melibatkan masyarakat
  6. Pengembangan regulasi/kebijakan pengelolaan Danau Rawapening dan Daerah Tangkapan Air (DTA)
  7. Pengembangan kebijakan garis sempadan dan proteksi sumber daya alam
  8. Pengembangan zonasi pemanfaatan Danau Rawapening
  9. Pengembangan pemanfaatan eceng gondok untuk peningkatan pendapatan masyarakat
  10. Pengembangan ekoturisme
  11. Pengembangan forum peduli lingkungan

Dari ketujuhbelas program tersebut telah dilakukan aksi penyelamatan berupa pengangkatan tanaman eceng gondok melalui pemberdayaan masyarakat sekitar Danau Rawapening serta kerjasama dengan pihak TNI yang dilaksanakan pada tahun 2011. Sebagai langkah nyata yang dilakukan KLH pada tahun 2012 yaitu melakukan 7 kegiatan implementasi program dan kegiatan penyelamatan ekosistem Danau Rawapening yang dilaksanakan pada bulan September – November 2012.

Penyelenggaraan workshop ini selain sebagai upaya bersama dalam penyelamatan danau, juga sebagai media penguat komitmen yang telah dibentuk berdasarkan Kesepakatan Bersama tentang Pelaksanaan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang telah ditandatangani oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Rektor Universitas Diponegoro pada tanggal 23 Januari 2013 di Semarang, Jawa Tengah.

Diharapkan dari workshop ini dapat dihasilkan rekomendasi aksi dan solusi penyelamatan ekosistem Danau Rawapening berdasarkan hasil kajian ilmiah para akademisi yang kemudian dapat diadopsi sebagai suatu langkah nyata penyelamatan ekosistem Danau Rawapening oleh seluruh pihak yang terkait antara lain Kementerian/Lembaga/Daerah serta Dunia Usaha.

Informasi lebih lanjut:
Ir. Arief Yuwono, MA,
Deputi MENLH Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim,
Kementerian Lingkungan
Hidup, Tlp/Fax (021) 85904923,
email : humaslh@gmail.com / www.menlh.go.id
Ilustrasi Foto: Wahyu Cahyadi Rustadi (Peserta Pameran Foto PLI 2012)